Lima bahasa daerah di Tanah Papua telah punah

0
289

Jayapura, Jubi – Koordinator Pemetaan Bahasa Balai Bahasa Papua dan Papua Barat Yohanis Sanjoko mengatakan, lima bahasa daerah di Tanah Papua sudah punah. Kelima bahasa adalah bahasa Tandia (Teluk Wondama), Mapia (Kabupaten Supiori), Safoni (Waropen), Bonerif (Mamberamo Raya), dan Wario (Waropen).

“Dari empat tersebut, bahasa Tandia sudah tidak ada lagi penuturnya dan diperkirakan masyarakat setempat juga sudah tidak menggunakan bahasa daerah tersebut, untuk bahasa daerah Mapia, hanya tinggal satu orang penutur, namun data tersebut dimbil sekitar 1990-an,” ujarnya kepada Jubi di ruang kerjanya, Rabu (3/5/2017).

Sedangkan bahasa daerah Safoni dan Bonerif penurutnya tinggal empat orang. Bahasa daerah Wario tinggal lima orang penutur. Ini data terakhir 2016.

“Punahnya bahasa daerah tersebut, menurut Sanjoko, disebabkan faktor sikap pemilik bahasa sendiri dan juga respon penerima bahasa daerah.

“Pemilik bahasa atau moyang-moyang tidak meneruskan bahasa daerah mereka kepada masyarakatnya atau anak-anaknya, sehingga tergerus oleh masuknya bahasa lain,” katanya.

Dikatakan, dengan punahnya kelima bahasa daerah tersebut diharapkan pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten dan kota harus aktif memberikan pemahanan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga bahasa daerah agar tidak punah.

“Edukasi itu dimulai dari orang tuan kepada anak-anak mereka, orang tua harus lebih aktif memberikan pembelajaran terkait bahasa daerah dan minimal komunikasi dalam rumah menggunakan bahasa daerah, tujuannya untuk anak-anak tersebut bisa paham dan mengerti bahwa selain bahasa Indonesia mereka juga mempunyai bahasa daerah atau bahasa ibu,” ujarnya.

Data 2016 Balai Bahasa Papua dan Papua Barat, di dua provinsi terdapat 372 bahasa daerah.

Sebelumnya, Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Hubungan Pusat dan daerah, Dr. James Modouw kepada Jubi mengatakan, pendidikan bahasa daerah penting untuk anak-anak usia sekolah agar bahasa daerah tidak kalah dari Bahasa dan  budaya luar. (*)

LEAVE A REPLY